Senin, 11 Desember 2023

IHSG Sempat Tembus 7.200, BBRI & TLKM Saham Incaran Asing

 Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT. Equityworld Futures Manado - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terapresiasi 1,41% sepanjang perdagangan pekan lalu. IHSG ditutup menguat 0,35% di posisi 7.159,598, Jumat (8/12/2023).

Sepanjang pekan lalu, IHSG hanya ditutup melemah sekali pada perdagangan Rabu (6/12/2023). Pada titik tertingginya, indeks sempat menyentuh posisi 7.201,629.

Tercatat, sepanjang pekan lalu investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp876,80 miliar di seluruh pasar. Rinciannya, sebesar Rp656,74 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp220,26 miliar di pasar negosiasi.

Baca Juga : Pemilik Emas Dibuat Was-Was! Harganya Bisa Jatuh ke US$1.900

Kendati demikian ada sejumlah saham yang diincar asing. Berikut saham pilihan asing sepanjang pekan lalu:

1. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) - Rp491,9 miliar

2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp349,6 miliar

3. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) - Rp70,3 miliar

4. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) - Rp32,6 miliar

5. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) - Rp31,7 miliar

6. PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) - Rp29,2 miliar

7. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) - Rp28,6 miliar

8. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) - Rp27,5 miliar

9. PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) - Rp21,8 miliar

10. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) - Rp21,7 miliar

 

 

cnbcindonesia.com/market

 

Kamis, 07 Desember 2023

Market Cap BREN Tembus RP 1.000 T, Harga Sahamnya Kemahalan?

PT. Equityworld Futures Manado Emiten Energi Baru dan Terbarukan (EBT) milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali mencetak rekor terbarunya pada perdagangan Kamis (7/12/2023) kemarin, baik dari harganya maupun kapitalisasi pasarnya.

Saham BREN melejit 7,64% ke posisi harga Rp 7.750/unit pada perdagangan kemarin. Bahkan, BREN juga kembali mencetak all time high (ATH) atau harga tertinggi sepanjang masanya di harga tersebut.

Tak hanya itu saja, kapitalisasi pasar BREN juga makin meningkat, di mana hingga perdagangan kemarin, kapitalisasi pasarnya sudah mencapai Rp 1.036,84 triliun. Tinggal sedikit lagi BREN menyusul kapitalisasi pasar perbankan paling jumbo di Indonesia yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sebesar Rp 1.087,9 triliun.

Selain menyentuh ATH dan makin membesarnya kapitalisasi pasar BREN, kenaikan harganya sejak IPO semakin membesar. Dari harga IPO-nya di Rp 780/saham, saham BREN diketahui sudah meroket hingga 893,59% menjadi Rp 7.750 per saham.

Melantai sejak 9 Oktober lalu, saham emiten taipan Prajogo ini dapat dikatakan menjadi salah satu saham IPO dengan kinerja paling tinggi di 2023.

Saham BREN sempat melesat sembilan hari berturut-turut di zona hijau pada awal perdagangan sejak debut perdananya dan sempat menyentuh auto reject atas (ARA) 5 hari beruntun.

Dari kinerja keuangannya, BREN berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$29,24 juta atau setara dengan Rp445,78 miliar (asumsi kurs Rp15.243/US$) per kuartal I 2023.

Baca juga : Harga Emas Terus Naik, Bisa Terbang Lagi Karena Pemilu AS

Angka ini tumbuh 30,97% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$22,33 juta (Rp340,38 miliar) pada periode yang sama 2022.Ini seiringtop lineperusahaan yang positif dengan pendapatan naik 10,05% yoy menjadi US$147,08 juta pada 3 bulan pertama 2023.

BREN memang salah satu pemain utama dalam pengembangan panas bumi di Indonesia, sebuah sektor yang menjadi fokus dalam rencana energi terbarukan pemerintah.

Dengan potensi sumber daya panas bumi yang melimpah di Indonesia, BREN berada dalam posisi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan energi terbarukan dalam bauran energi negara ini.

Kinerja keuangan yang positif dan pertumbuhan kapasitas yang pesat menjadikan BREN sebagai perusahaan yang menarik bagi para investor.

Apalagi, prospek energi baru dan terbarukan (EBT) yang masih menarik menjadi alasan saham BREN masih diburu oleh investor, meski secara valuasi saham BREN sudah tergolong premium atau sangat mahal.

Apakah Saham BREN Sudah Terlalu Mahal?

Dengan terus melesatnya saham BREN dalam beberapa hari terakhir, tentunya hal ini cenderung terpengaruh ke valuasi BREN. Kini, valuasi BREN bisa dikatakan sudah sangat premium atau super mahal.

Dari price-to-earnings ratio (PER) BREN saat ini mencapai sekitar 594,24 kali. Artinya, saham BREN sudah super mahal, karena sudah berada jauh di atas PER rata-rata industri yang mencapai 119,36 kali.

Sedangkan dari price-to-book value(PBV) BREN yang menyentuh angka ekstrem 261,34 kali, juga menunjukkan valuasi pasar emiten ini sudah kadung menyentuh 'atap langit'. Adapun PBV rata-rata industri mencapai 48,34 kali.

Meski begitu, kesuksesan BREN di November lalu terjadi karena Prospek energi baru dan terbarukan (EBT) yang masih menarik, menjadikan alasan investor terus memburu BREN meski valuasinya sudah sangat premium.

Prospek EBT sendiri sejatinya cenderung positif karena pemerintah saat ini berupaya untuk mengurangi ketergantungan akan energi fosil dan upaya untuk mengurangi perubahan iklim yang sudah ekstrim.

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

research@cnbcindonesia.com

 

 

Awas! IHSG Bisa Terguncang Kabar Buruk dari China & Covid RI

PT. Equityworld Futures Manado -  Pasar saham berhasil mengakhiri perdagangan Kamis (7/12/2023) di zona hijau, setelah sempat bergerak ke zona merah sepanjang perdagangan hari ini

IHSG ditutup menguat 0,67% ke posisi 7.134,623. IHSG akhirnya berhasil ditutup di level psikologis 7.100 pada perdagangan hari ini.

Nilai transaksi IHSG pada hari ini mencapai sekitar Rp 13 triliun dengan melibatkan 26 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,4 juta kali. Sebanyak 177 saham terapresiasi, 377 saham terdepresiasi dan 206 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi penopang terbesar IHSG di akhir perdagangan hari ini, yakni mencapai 4,06%. Selain itu, sektor infrastruktur juga menjadi movers IHSG yakni sebesar 3,08%.

IHSG sempat terkoreksi karena terbebani oleh sentimen dari diturunkannya peringkat utang nasional China oleh Moody's. Lembaga pemeringkat berbasis di Amerika Serikat (AS) ini menurunkan 'outlook' peringkat utang A1 China menjadi "negatif" dari "stabil".

Moody's mengatakan penurunan terjadi akibat biaya untuk memberikan dana talangan (bailout) kepada pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan negara akan membebani perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut. Belum lagi rencana untuk mengendalikan krisis properti.

Baca juga : Harga Emas Terus Naik, Bisa Terbang Lagi Karena Pemilu AS

"Beijing kemungkinan perlu memberikan lebih banyak dukungan kepada pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan negara yang terlilit utang, yang menimbulkan risiko negatif yang luas terhadap kekuatan fiskal, ekonomi, dan kelembagaan China," menurut laporan tersebut, seperti dikutip Reuters, Rabu (6/12/2023) kemarin.

Kondisi China saat ini dan tahun depan dapat memberikan tekanan bagi Indonesia apalagi China merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Asia dan merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Sebagai catatan, real estate dan sektor terkait menyumbang lebih dari seperempat perekonomian China. Kondisi China ini berpotensi mempengaruhi ekonomi Indonesia.

Selain itu, impor China yang baru saja diumumkan pagi ini juga tak terduga turun 0,6% (year-on-year/yoy) menjadi US$ 223,54 miliar pada bulan November 2023, meleset dari perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 3,3% dan berbalik dari pertumbuhan sebesar 3,0% pada bulan sebelumnya.

Penurunan pembelian ini merupakan yang ke 10 kalinya sepanjang tahun ini, hal ini menunjukkan lemahnya permintaan domestik meskipun ada rencana luas dari pemerintah untuk memulihkan konsumsi.

Pelemahan ekonomi China ini memberikan dampak negatif bagi aktivitas ekonomi Indonesia dan pasar keuangan domestik berpotensi terkena dampak negatifnya.

Sementara nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah di angka Rp15.510/US$ atau terdepresiasi 0,13%. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan yang terjadi Rabu (6/12/2023) sebesar 0,06%.

Wall Street Kompak Menguat.
 
 
cnbcindonesia.com/research

 

 

Rabu, 06 Desember 2023

Harga Batu Bara Terbang Nyaris 6%, Tembus Level US$ 140

 Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

PT. Equityworld Futures Manado - Harga batu bara terbang menembus level psikologis US$ 140. Koreksi ini terjadi, seiring komitmen dunia yang mulai mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang malah mengakibatkan kekurangan rantai pasokan komoditas energi. Selain itu, permintaan komoditas energi menjelaskan musim dingin turut membuat lonjakan harga batu bara.

Merujuk pada Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Januari ditutup di posisi US$ 142 per ton atau melesat 5,58% pada perdagangan Rabu (6/12/2023). Lompatan harga batu bara ini merupakan yang terbesar ke-7 sepanjang tahun ini.

Kenaikan besar secara persentase ini mematah sentimen negatif batu bara dan ketakutan akan level harga yang semakin menyusut. Dengan ini, harga batu bara berpotensi kembali memasuki fase tren penguatan.

Penguatan harga terjadi seiring pasokan energi yang semakin tipis akibat beralihnya ke energi baru terbarukan (EBT) untuk mencapai dunia bebas emisi. Pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara di Eropa terus mengalami penurunan pada November dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Tidak hanya itu, tahun ini diperkirakan turut akan menjadi tahun produksi gas terendah sejak 2018, sementara produksi batu bara bisa menjadi rekor terendah dalam beberapa waktu terakhir, data sistem menunjukkan.

Penurunan tingkat produksi terjadi pada tahun lalu yang dapat mengancam permasalahan persediaan. Pembangkit listrik berbahan bakar gas di lima pasar listrik terbesar di Eropa pada November turun 19% (yoy), sementara batu bara anjlok 31%.

Baca juga :  Harga Emas Mulai Bangkit Setelah Ambruk 2% Lebih

Biaya pembangkitan berbahan bakar gas untuk bulan Desember dipatok tepat di bawah batu bara (35%) yaitu sebesar Eur107,86/MWh pada tanggal 30 November, namun di atas batu bara untuk kuartal-I 2024, menurut penilaian Platts untuk S&P Global Commodity Insights .

Harga gas Eropa yang mendapat patokan lebih murah dibanding batu bara disinyalir dapat mendorong pergerakan harga sementara. Namun, seiring adanya kebijakan pematokan akan dikembalikan dapat mendorong minat untuk memastikan posisi kepemilikan batu bara.

Selain itu, faktor utama kenaikan harga batu bara diperkirakan akibat kekhawatiran akan musim dingin Eropa mendatang. "Saya pikir cuaca dan gas tetap menjadi hal utama yang harus diwaspadai untuk batubara," kata seorang pedagang di sebuah perusahaan energi Eropa yang dikutip dari Montel News.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran lonjakan kebutuhan batu bara untuk opsi sumber energi pembangkit listrik untuk penghangat ruangan. Hal ini tidak menutup kemungkinan Eropa kembali intensif menggunakan pembangkit batu baranya kembali yang mulai dikurangi sebagai langkah menuju bebas emisi.

Musim dingin belahan bumi bagian utara erat kaitannya dengan kenaikan harga batu bara, seperti yang telah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sebagai informasi, penghangat relatif mengkonsumsi listrik yang lebih besar dibanding pendingin ruangan. 

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

research@cnbcindonesia.com

 

Alasan Emiten Emas Jeblok Padahal Harganya Terbang Selangit

 Emas

PT. Equityworld Futures Manado - Sepanjang tahun 2023 harga emas di pasar spot telah mengalami lonjakan sebesar 17,05% hingga puncaknya pada 4 Desember 2023 yang mencapai All Time High di level tertinggi US$2.135,4.

Rekor tertinggi emas tercapai di tengah meningkatnya optimisme pasar jika bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga. Optimisme tersebut datang setelah inflasi AS melandai pada Oktober serta komentar Ketua The Fed Jerome Powell pada hari Jumat pekan lalu yang menilai inflasi sudah berjalan sesuai keinginan mereka.

Sebagai catatan, inflasi AS melandai 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, dari 3,7% (yoy) pada September 2023.

The Fed tampaknya akan mengakhiri tahun ini dengan tidak lagi menaikkan suku bunga, namun dengan tantangan yang akan datang mengenai kapan dan bagaimana memberi sinyal untuk beralih ke penurunan suku bunga.

Kenaikan harga emas seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.Pelemahan dolar AS membuat emas semakin terjangkau untuk dibeli sehingga permintaan meningkat.

Sepanjang tahun 2023 pergerakan indeks dolar AS mengalami penurunan sebesar 0,25% hingga perdagangan 4 Desember 2023 di level 103,27 saat emas mencapai ATH nya. Sementara dolar AS pernah jatuh pada harga terendahnya di sepanjang tahun 2023 sebesar 3,81% pada 14 Juli 2023 di level 99,58.

Penurunan indeks dolar AS membuat emas batangan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Kemudian, imbal hasil Treasury 10 tahun AS juga telah mencapai di level 4,28% pada perdagangan 4 Desember 2023 saat emas mencapai ATH nya. Bahkan pada perdagangan 5 Desember 2023 imbal hasil Treasury 10 tahun AS telah berada di level 4,17%.
Emas tidak menawarkan imbal hasil seperti halnya US Treasury sehingga melandainya imbal hasil membuat emas lebih menarik.

Data FedWatch Tool CME menunjukkan  pelaku pasar melihat peluang 57% untuk penurunan suku bunga pada bulan Maret 2024, turun dari 63% pada hari Jumat. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang emas batangan.

Data minggu lalu menunjukkan berkurangnya tekanan inflasi dan pelonggaran pasar tenaga kerja secara bertahap memperkuat gagasan penurunan suku bunga lebih awal. Personal Consumption Expenditures (PCE) AS melandai ke 3% (yoy) pada periode Oktober 2023, dari sebelumnya sebesar 3,4% pada periode September 2023.

Para pedagang sedang menunggu rilis data non-farm payrolls AS pada hari Jumat pekan ini, yang dapat membantu mengukur lebih lanjut prospek suku bunga.

Adapun, investor melacak transaksi emas seiring dengan lonjakan harga emas sepanjang masa. SPDR Gold Shares senilai US$57,8 miliar membukukan arus masuk bersih lebih dari US$1 miliar di bulan November 2023, karena harga emas menguat di tengah ekspektasi bahwa The Fed dapat memulai memangkas suku bunga pada awal bulan Maret 2024.

Ini adalah bulan arus masuk dana emas SPDR terkuat sejak Maret 2022, menghentikan arus keluar lima bulan berturut-turut. Dana tersebut berakhir pada November dengan kenaikan 2,5%, namun turun 2,2% pada perdagangan kemarin Senin (4/12/2023).

Baca Juga :  Harga Emas Mulai Bangkit Setelah Ambruk 2% Lebih

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi.

Kinerja Saham Emas di BEI

Harga emas di pasar spot mengalami kenaikan hingga 17,05% di sepanjang tahun 2023 saat menyentuh ATH nya. Namun, beberapa saham emas justru tidak mencatatkan kenaikan pergerakan saham yang sejalan dengan harga emas di pasar spot.

Penurunan beberapa harga saham emas karena turunnya kinerja Perseroan pada penjualan maupun dalam menghasilkan laba bersih. Bahkan masih ada yang mencatatkan kerugian hingga kuartal III 2023.

Rincian Penjualan Saham Emas di BEI

• PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) (dalam jutaan rupiah)

antm 
Foto: antm


Kontribusi pendapatan ANTM didominasi dari penjualan emas, namun ANTM tidak hanya mengelola pertambangan emas, terdapat pula nikel, alumina, bauksit, dan juga perak.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) (dalam dolar AS)

mdka 
Foto: mdka

Kontribusi pendapatan MDKA didominasi dari penjualan ekspor untuk komoditas emas, perak, katoda tembaga, feronikel dan nickel matte.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) (dalam dolar AS)

medcFoto: medc

MEDC tidak hanya berada dalam pertambangan emas, namun terdapat bsinis minyak dan gas bumi hingga penjualan listrik. Kontribusi pendapatan MEDC terbesar berasal dari penjualan minyak dan gas bumi.

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) (dalam dolar AS)

arciFoto: arci

Kontribusi pendapatan ARCI berasal dari pertambangan emas. ARCI juga melakukan perdagangan dan pengolahan emas.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) (dalam dolar AS)

brmsFoto: brms

BRMS tidak hanya melakukan penjualan emas, Perseroan juga menyediakan perak. BRMS juga melakukan transaksi penjualan ke salah satu emiten di BEI yakni PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).

PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) (dalam dolar AS)

antm 
Foto: psab

Kontribusi pendapatan PSAB berasal dari pertambangan emas, yang dimana Perseroan juga melakukan transaksi penjualan ke salah satu emiten di BEI yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

PT United Tractors Tbk (UNTR) (dalam jutaan rupiah)

untr 
Foto: untr

Bisnis UNTR tidak hanya menjalankan pertambangan emas, Perseroan juga memiliki pertambangan batu bara. Kontribusi pendapatan UNTR justru didominasi dari pertambangan batu bara dibandingkan dengan pertambangan emas.

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) (dalam rupiah)

hrta 
Foto: hrta

Kontribusi penjualan HRTA berasal dari penjualan emas yang didistribusikan dalam bentuk perhiasan dan logam mulia untuk grosir maupun toko.

Rasio Keuangan Saham Emas di BEI

Beberapa saham emas yang tercatat di BEI terdapat masih berada di bawah Price Book Value (PBV) satu, yang berarti harga saham tersebut masih undervalued alias murah. Sementara secara Price Earning Ratio (PER) terdapat dua saham yang mencatatkan angka negatif yakni MDKA dan PSAB, hal tersebut lantaran Perseroan masih membukukan kerugian, dapat terlihat pada Net Profit Margin (NPM) Perseroan yang berada di angka negatif.

PER secara sektoral dalam industri pertambangan emas, dapat dikatakan murah jika berada dibawah PER 15, sehingga secara sektoral saham ANTM, MEDC, UNTR dan HRTA yang dapat dikatakan undervalued atau murah.

Dalam menghasilkan margin, rata-rata margin yang baik dalam industri pertambangan emas adalah sekitar 25%. Jika mencatatkan lebih diatas 25% berarti perusahaan dapat mencapai keuntungan diatas rata-rata margin saham pertambangan emas.

Demikian hasil analisa emiten-emiten emas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor harus bersikap bijak dalam memilih sebuah saham.

Harga emas di pasar spot kini mulai memasuki fase bullish setelah didukung oleh beberapa sentimen global, hal ini dapat mendorong kenaikan harga emas hingga akhir tahun 2023 dan berlanjut hingga kuartal I tahun 2024.

Namun pergerakan harga saham-saham emas yang tercatat di BEI secara jangka panjang tentu didorong dari hasil kinerja Perseroan yang tercermin dari laba Perseroan, tidak hanya karena kenaikan harga emas di pasar spot semata.

 

 

cnbcindonesia.com/research

Selasa, 05 Desember 2023

CHIP Kantongi Kontrak dari Smartfren, Omzet Bisa Naik 5%

PT. Equityworld Futures Manado -  PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) menerima kontrak baru dari PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) pada penghujung 2023.

Direktur Utama CHIP Ardarini mengatakan kontrak baru ini membuat CHIP semakin optimistis mengembangkan lini usaha dan ekspansi pasar. Dalam kontrak ini, CHIP akan bekerja sama menopang produk Smartel ke depannya.

"Kontrak yang berdurasi lima tahun akan meningkatkan performa laporan keuangan ke depannya dan harapan kami perusahaan mengalami growth 5 persen dari omzet yang diproyeksikan pada 2024," kata Ardarini dalam keterangan resminya, Selasa (5/12).

Sebelumnya CHIP telah bekerja sama dengan PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchinson selama kurang lebih tiga tahun untuk menyediakan chip bagi pengguna ISAT.

Baca Juga : Harga Emas Jeblok! Ini Bocoran Kapan Tembus US$ 2.100 Lagi

Harapannya, kerja sama dengan Smartfren semakin memperluas jejaring CHIP. Perseroan optimistis kerja sama dengan FREN akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Sebagai informasi, Pelita Teknologi Global (CHIP) mencatat laba bersih periode Juni 2023 sebesar Rp 12,45 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,92 miliar.

Jumlah aset pada kuartal II-2023 sebesar Rp 111,30 miliar atau tumbuh 67% jika dibandingkan dengan laporan keuangan per 31 Desember 2022.

Pertumbuhan ini salah satunya kontribusi dari meningkatnya kas dan bank per 30 Juni 2023 mencapai Rp 29,31 miliar. Sementara itu jumlah liabilitas sebesar Rp 51,43 miliar pada periode 30 Juni 2023 dan sebesar Rp 46,91 miliar pada periode 31 Desember 2022.

 

 

cnbcindonesia.com/market

RI Kekeringan Uang, Ada Salah Menteri Jokowi

PT. Equityworld Futures Manado -  Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kekeringan likuiditas yang sedang dialami Indonesia juga disebabkan oleh faktor pemerintah. Dia mengatakan hingga saat ini tingkat pengeluaran pemerintah masih rendah meskipun sudah di akhir tahun.

"Kalau kita bicara tadi likuiditas ini pun terpengaruh oleh belanja pemerintah yang masih terlambat," kata Josua, Selasa (5/12/2023).

Dia mengatakan hingga bulan September 2023 penempatan rekening pemerintah di Bank Indonesia masih relatif tinggi. Sebagaimana diketahui, hingga November ini tingkat penyerapan anggaran pemerintah pusat baru 76%, sementara serapan anggaran pemerintah daerah lebih parah, yakni 64%.

Josua berharap pemerintah bisa mempercepat penggunaan anggaran tersebut. Menurutnya, pengeluaran dari pemerintah akan mengakselerasi sisi konsumsi masyarakat dan investasi.

"Kalau spending pemerintah masih lambat akhirnya masih akan tetap berputar di rekening pemerintah di BI, tidak masuk ke perbankan, sehingga pada nantinya perputaran uang pun terkonfirmasi bahwa dari sisi M2 uang beredar dan M1 khususnya ini menurun," kata dia.

Dia mengatakan pemerintah harus mempercepat belanja untuk membantu masyarakat kelas menengah ke bawah. Dia mencatat telah terjadi fenomena makan tabungan yang dilakukan masyarakat menengah ke bawah karena tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut dia, kebijakan belanja untuk bantuan sosial akan menjaga daya beli masyarakat tetap baik.

Baca Juga : Harga Emas Jeblok! Ini Bocoran Kapan Tembus US$ 2.100 Lagi

"Pemerintah harus bisa mengakselerasi misalnya bansos untuk bisa mendorong dan menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah menengah dan bisa mempercepat mengakselerasi spending khususnya untuk pembayaran proyek infrastruktur dan sebagainya, sehingga ini ada perputaran yang bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi khususnya di kuartal 4 ini dan tahun mendatang," kata dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyoroti perputaran uang di Indonesia yang semakin kering. Dia mengingatkan hal ini bisa mengganggu sektor riil. Di depan ratusan bankir yang menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), Jokowi mengatakan dia sudah mendapat keluhan dari pengusaha mengenai keringnya peredaran uang di masyarakat.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan dana pihak ketiga atau DPK dan kredit di perbankan pada tahun ini akan rendah, masing-masing di kisaran 6%-8%, dan 7%-9%. Sedangkan bank besar bisa di atasnya sekitar 1%-2%.

Gagal tumbuhnya DPK dan kredit, kata dia, dipicu sikap hati-hati perbankan karena adanya risiko tekanan ekonomi global akibat perang, harga komoditas yang bergejolak, pelemahan ekonomi, serta masih tingginya inflasi dan suku bunga acuan bank sentral global.

"Ini jadi catatan karena appetite sebenarnya untuk memberikan kredit itu masih cukup tinggi, namun bank akan sangat prudent melihat dan memitigasi risiko sambil melihat peluang," tutur Asmo.

 

 

cnbcindonesia.com/market