Senin, 09 Oktober 2023

Hasil Ramalan 'Gandalf' JPMorgan: Wall Street Bisa Drop 20%

 Ilustrasi Wall Street. (AP/J. David Ake)

PT. Equityworld Futures Manado - Chief strategist beken dari JPMorgan Marko Kolanovic mewanti-wanti adanya potensi aksi jual besar-besaran yang bisa membuat indeks S&P 500 turun hingga 20%.

Menurut sosok yang kerap dijuluki Gandalf (tokoh protagonis dalam novel The Hobbit dan The Lord of the Rings) tersebut, suku bunga yang tinggi menciptakan titik puncak bagi pasar saham.

Dia menyebut, memilih cash dengan tingkat pengembalian (return) 5,5% di pasar uang dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) Treasury jangka pendek adalah strategi perlindungan utama saat ini.

"Saya tidak yakin bagaimana kita akan menghindarinya [resesi] jika kita tetap pada tingkat suku bunga ini," kata kepala strategi pasar dan kepala penelitian global JPMorgan tersebut kepada "Fast Money" CNBC International pada Kamis (6/10/2023).

&P 500 ditutup pada 4,258.19 pada Kamis dan berada di titik puncak penurunan lima minggu berturut-turut. Indeks ini turun lebih dari 5% selama sebulan terakhir.

Kolanovic yakin kelemahan ini bukanlah pertanda kuat bahwa pergerakan besar-besaran ke bawah sudah terjadi. Dia mengindikasikan pemantulan (rebound) jangka pendek masih mungkin terjadi karena banyak hal bergantung pada laporan ekonomi Negeri Paman Sam selama beberapa bulan ke depan.

″[Kami] tidak serta merta menyerukan kemunduran (pullback) tajam dalam waktu dekat," katanya. "Mungkinkah ada kenaikan saham sebesar lima, enam, tujuh persen lagi? Tentu saja... Tapi ada sisi buruknya. Ini bisa menjadi penurunan 20%," imbuhnya.

Dia memperingatkan saham-saham 'Magnificent Seven' (7 Saham Luar Biasa), yang mencakup raksasa teknologi AS, Apple, Amazon, Meta, Alphabet, Nvidia, Tesla dan Microsoft, termasuk yang paling rentan terhadap kerugian besar karena kenaikan tinggi mereka di tengah tingginya suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).

Kelompok saham tersebut terbang 83% sepanjang tahun ini, turut menopang sebagian besar kenaikan indeks S&P 500.

"Jika terjadi resesi, saya pikir Magnificent (Seven)... akan menyusul sektor-sektor lainnya," kata Kolanovic, mengutip sektor-sektor yang terpuruk termasuk sektor konsumen dan utilitas.

Ditambah lagi, Kolanovic yakin konsumen AS akan mengalami defisit uang karena kondisi ekonomi makro saat ini.

"Pasar kerja masih kuat. Namun Anda mulai melihat tekanan pada konsumen jika Anda melihat tunggakan pada kartu [kredit] dan pinjaman mobil," katanya. "Kami masih agak negatif."

Kolanovic mematok target akhir tahun untuk indeks S&P 500 di level 4.200. Indeks tersebut menutup 2022 di posisi 3.839,50.

Posisi Kolanovic yang menjadi pesimis di 2023 terbilang kontras dengan tahun lalu yang optimis.

Pasar Saham RI

Dari pasar dalam negeri, riak-riak goyahnya Wall Street terasa akhir-akhir ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dua kali anjlok hingga 1% dalam sehari, yakni pada 26 September dan 4 Oktober lalu (sebelum ditutup minus 0,78%). Dalam sepekan, IHSG minus 0,55% dan dalam sebulan turun 0,77%.

Dana asing tercatat keluar dari pasar saham dengan nilai jual bersih (net sell) Rp74,43 miliar di pasar reguler dalam sepekan dan sebesar Rp3,06 triliun dalam sebulan belakangan di pasar reguler.

Di tengah situasi makro global yang penuh pergantian narasi, terutama soal kebijakan moneter AS, investor dalam negeri bisa berharap faktor musiman (seasonality) Oktober akan mampu membuat IHSG kembali bergairah.

Maklum, dalam 10 tahun terakhir, kemungkinan IHSG menghijau selama Oktober mencapai 73% dengan tingkat kenaikan rerata mencapai 1,90%.

Hanya saja, selain faktor musiman, sejumlah kondisi ekonomi dalam dan luar negeri sedikit banyak masih akan tetap menjadi pendorong utama IHSG ke depan.

 

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

research@cnbcindonesia.com

 

 

Jumat, 06 Oktober 2023

Harga Batu Bara, Emas & CPO Ambruk Berjamaah

Kilang minyak

PT. Equityworld Futures Manado - Mayoritas harga komoditas anjlok pada perdagangan, Kamis (5/10/2023). Harga minyak mentah, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), batu bara, sampai emas jatuh. Namun, harga komoditas mulai membaik pada hari ini, Jumat (6/10/2023).

Harga minyak mentah brent ambruk 2,03% ke US$ 84,4 per barel dan WTI jatuh 2,27% ke posisi US$ 82,67 per barel pada perdagangan kemarin.

Pada perdagangan hari ini, minyak brent sudah menguat 0,39% dan WTI menanjak 0,44%.

Harga minyak anjlok pada perdagangan kemarin karena Investor khawatir puncak permintaan konsumsi bahan bakar sudah berlalu.

Harga minyak turun lebih dari US$5 pada hari Rabu, penurunan harian terbesar dalam lebih dari setahun, bahkan setelah pertemuan panel tingkat menteri OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia.

Baca Juga : Harga Emas Ambruk 9 Hari Beruntun, Terburuk dalam Sejarah?

Harga CPO ambruk 0,67% pada hari ini, melanjutkan tren negatif di hari sebelumnya sebesar 2,91%.
Amblesnya harga CPO dipicu karena penurunan permintaan minyak tropis luar negeri dari pembeli utama seperti India dan China.

Impor minyak nabati oleh India, pembeli minyak goreng terbesar di dunia, turun 19% pada bulan September dibandingkan bulan Agustus karena perusahaan penyulingan membatasi pembelian sebesar 26% setelah persediaan melonjak ke rekor tertinggi.

Harga batu bara ambruk 3,58% pada perdagangan kemarin. Artinya, batu bara sudah jatuh selama tujuh hari beruntun.

Harga emas juga belum membaik. Sang logam sudah melemah selama sembilan hari beruntun.

 

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

Rabu, 04 Oktober 2023

Rupiah Melemah, Deretan Perusahaan Ini Malah Bisa Pesta Pora

 Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) 

PT. Equityworld Futures Manado - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang menjadi penghambat gerak pasar keuangan Tanah Air terutama saham. namun, nyatanya tak semua emiten rugi karena ambruknya mata uang Garuda, malah ada yang untung dari kondisi ini.

Karakteristik utama emiten yang akan diuntungkan ketika rupiah melemah adalah yang mendapatkan penghasilan dari penjualan ekspor sehingga banyak melakukan transaksi dengan dolar AS, bahkan beberapa perusahaan mencatatkan laporan keuangan dengan denominasi dolar AS.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan yang berakhir Rabu (4/10/2023) nilai tukar rupiah dalam melawan dolar AS ditutup di angka Rp15.625/US$, ambruk 0,32% secara harian. Hal tersebut menandai rupiah telah melemah selama tiga hari berturut-turut, bahkan nilainya menjadi yang paling parah selama sembilan bulan terakhir.

Ambruknya rupiah dibayangi ketidakpastian eksternal yang semakin meningkat terutama dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang masih potensi meningkatkan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) di sisa tahun ini.

Ketidakpastian global membuat yield obligasi 10 tahunan AS melonjak mendekati level psikologis 5%, bahkan sudah melampaui level tertinggi sejak 16 tahun lalu, kemudian indeks dolar DXY melesat ke level tertinggi sejak 2007 silam.

Potensi kenaikan suku bunga serta kenaikan yield treasury AS dan indeks dolar DXY akan menjadi penekan mata uang emerging market, termasuk Indonesia.

Dalam hal ini tentu menjadi tantangan bagi pasar modal dalam negeri karena potensi asing akan bisa kabur, dampaknya kinerja sejumlah emiten pun jadi melempem.

Namun ternyata ada beberapa emiten yang masih tahan banting melawan ketika dolar makin perkasa diantaranya sebagai berikut :

Sektor Komoditas - Kertas
Emiten yang banyak ekspor ini biasanya di sektor komoditas, beberapa yang sudah mulai terlihat mengepakkan sayapnya ada duo emiten di sektor kertas yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Baca Juga : Ironis! Pemilik Emas Menggantungkan Nasib ke Pengangguran AS

Sejak awal tahun hingga akhir perdagangan Rabu (4/10/2023) saham INKP dan TKIM masing-masing telah melesat 15,76% dan 20,57%. Duo produsen kertas milik grup Sinarmas ini diketahui memang memiliki pendapatan ekspor yang dominan. Tercatat hingga pertengahan tahun 2023 persentase ekspor terhadap total penjualan mencapai lebih dari 50%.

Ketika rupiah melemah dengan kondisi penjualan ekspor yang dominan tentu menjadi keuntungan karena pendapatan akan lebih optimal karena keuntungan dari selisih kurs mata uang Garuda dan the Greenback.

Sektor Komoditas - Energi dari Migas dan Batubara

Sektor komoditas seperti energi yang meliputi minyak dan gas (migas) dan batubara potensi diuntungkan ketika rupiah melemah, pasalnya penjualan masih ditopang ekspor dan/atau mayoritas transaksi dalam laporan keuangan dicatatkan dengan denominasi dolar AS.

Ibu dari komoditas yakni minyak mentah bahkan beberapa kali menguji level tertinggi pada sepanjang tahun ini ke atas US$ 90 per barel. Kenaikan harga minyak mentah ini mengerek harga energi substitusi-nya yakni gas dan juga batubara.

Harga gas alam selama seminggu terakhir yang berakhir pada Rabu (4/10/2023) masih dalam tren penguatan sebesar 2,74% ke posisi US$ 2,97/MMBtu. Harga batubara walau sudah mulai terkoreksi, tetapi sempat ke level US$ 160 per ton pada tahun ini.

Penguatan harga komoditas energi selama beberapa waktu ini terjadi sejalan dengan kebutuhan energi yang meningkat karena perubahan iklim tak menentu di berbagai negara, ada yang mengalami gelombang panas ada juga yang dalam masa persiapan menuju musim dingin pada akhir tahun mendatang.

Tak hanya itu, peralihan ke energi baru terbarukan (EBT) juga memberikan eksposur investasi yang lebih tinggi sejalan dengan tujuan mencapai net zero emission pada 2060 mendatang, beberapa perusahaan energi bahkan membuat lini bisnis baru untuk menambah portofolio pendapatan agar tak hanya mengandalkan energi fosil.

Beberapa perusahaan yang berfokus pada renewable energy seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang juga sedang mengawal anak usahanya melantai di bursa yakni PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), serta PT Medco Energy International Tbk (MEDC) yang juga masuk ke energi ramah lingkungan melalui anak usahanya PT Medco Power.

Minat investor yang masih tinggi terhadap emiten energi ramah lingkungan tersebut semakin tercermin dari geliat harga saham yang atraktif. PGEO sejak IPO telah melonjak lebih dari 80%, BRPT juga tak kalah sejak awal tahun melesat 70,20%, sedangkan MEDC menguat 38,92% secara year-to-date (YTD).

Di lain sisi, kendati pelarangan penggunaan energi batubara sudah semakin gencar, akan tetapi penggunaannya masih dominan dalam skala global, apalagi costnya yang rendah dan penjualan ekspor masih tinggi membuat potensi keuntungan masih bisa didulang.

Perkiraan beban untuk batubara sendiri berkisar pada US$ 40 - 50 per ton, sedangkan harga saat ini di kisaran US$ 145 per ton sudah bisa membuat emiten batubara mencetak laba yang positif lagi, walau pertumbuhannya kemungkinan besar tak semasif 2022 yang merupakan rekor sepanjang sejarah.

Emiten lain yang ditopang ekspor

Selanjutnya emiten lain-nya yang akan diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah yang bisnisnya ditopang oleh kinerja ekspor. Salah satunya, PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Perusahaan produsen permen Kopiko ini memang terkenal mengandalkan ekspor sebagai penopang bisnisnya yang bahkan sudah merambah hingga ke Korea Selatan.

Penjualan kumulatif hingga semester I/2023 tercatat mencapai Rp14,81 triliun, dimana 42% atau setara Rp6,31 triliun dikontribusi oleh penjualan ekspor.

Mayoritas ekspor untuk produk mayora terpantau ke pasar Asia mencapai Rp5,91 triliun, nilai ini naik 6,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,52 triliun, sementara pasar ekspor lain sebesar Rp395,18 miliar juga mengalami lonjakan sebesar 27,53% pada periode yang sama.

Peningkatan ekspor menunjukkan permintaan produk Mayora di kancah internasional masih positif sehingga pendapatan dalam mata uang asing juga masih bisa mengoptimalkan pendapatan MYOR tetap solid, dampaknya juga bisa ke bottom line yang potensi terkerek naik.

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

 

 

 

 

 

Selasa, 03 Oktober 2023

Jalan Terjal Rupiah di 2023: Dulu Rp14.600 Kini Rp15.600/US$

Pekerja memperlihatkan uang dolar di salah satu gerai money changer di Jakarta, Senin (4/7/2022).  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

PT. Equityworld Futures Manado - Rupiah semakin terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan menyentuh level terendah sepanjang tahun ini. Sentimen utama koreksi rupiah disebabkan oleh selisih suku bunga  di AS dan pasokan dolar di Indonesia yang tipis.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup di angka Rp15.575/US$ atau melemah 0,32% terhadap dolar AS. Reli bearish rupiah terjadi sejak Mei 2023 yang konsisten terdepresiasi 5 bulan berturut-turut (1 Mei-30 September 2023), sebesar 5,8%.

Rupiah makin anjlok hari ini, Rabu (4/10/2023). Mata uang Garuda pada Rau pukul 11:20 WIB, ada di posisi Rp 15.632/US$1 atau melemah 0,37%. Posisi tersebut adalah yang terendah sejak 29 Desember 2022 atau lebih dari sembilan bulan terakhir.

Rupiah mengalami volatilitas cukup tinggi pada 2023. Pergerakan rupiah tahun ini berada di rentang Rp 14.665-15.630/US$.

Nilai rupiah terburuk terjadi pada awal tahun (6/1) menyentuh Rp15.630/US$. Tidak lama berselang, rupiah langsung rebound pada (2/2) menjadi Rp14.875/US$.

Sekejap, rupiah kembali melemah menjadi Rp 15.445/US$ pada bulan setelahnya (10/3). Rupiah kembali menguat setelahnya menjadi Rp14.665/US$ pada (28/4). Sejak Mei, rupiah menunjukkan tren pelemahan hingga mendekati level tertinggi awal tahun.

Pelemahan Rupiah

Titik terburuk rupiah terjadi sebanyak 3x pada tahun ini. Titik terlemah rupiah pada (6/1) disinyalir akibat cadangan devisa Indonesia yang menurun dalam 7 bulan beruntun sebelum naik pada November 2022. Hal ini sudah bisa memberikan gambaran tirisnya pasokan valas di dalam negeri, padahal seharusnya bisa meningkat sebab neraca perdagangan terus mencetak surplus.

Ditengarai para eksportir menempatkan dolar AS mereka di Singapura. Pasalnya, suku bunga deposito valas di Singapura lebih tinggi ketimbang di Indonesia.

Rupiah juga mengalami pelemahan pada Maret akibat investasi asing yang kabur dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 3,03 triliun pada 6-9 Maret 2023. Selain itu, outflow di pasar SBN dipengaruhi oleh sentimen The Fed. Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang mengungkapkan bahwa suku bunga AS atau fed fund rate (FFR) akan naik lebih tinggi, bikin semua investor putar arah.

Hal ini yang membuat yield US Treasury meningkat dan memberikan dampak terhadap pasar keuangan Indonesia, terutama ke pasar obligasi pemerintah.

Koreksi rupiah kembali terjadi pada periode Mei-September 2023 pasca bank sentral AS (The Fed) meyakini suku bunga AS di level yang tinggi dalam untuk periode yang panjang.

Dilansir dari Reuters, pejabat bank sentral AS (The Fed) mengatakan bahwa kebijakan moneter perlu tetap bersifat restriktif untuk "beberapa waktu" agar inflasi kembali turun ke target The Fed sebesar 2%.

Kendati ada kemajuan besar, inflasi masih terlalu tinggi, dan ia memperkirakan akan tepat bagi (Fed) untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dan mempertahankannya pada tingkat yang ketat untuk beberapa waktu.

 Baca Juga : Pemilik Emas Mesti Waspada: Harganya Bentar Lagi ke US$ 1700

Di sisi lain, terjadi capital outflow dari pasar keuangan domestik yang mengakibatkan tertekannya nilai tukar rupiah. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan investor asing masih meninggalkan pasar keuangan Indonesia sehingga terjadi capital outflow.

Data transaksi Bank Indonesia (BI) pada 25 - 27 September 2023, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp7,77 triliun terdiri dari jual neto Rp7,86 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), jual neto Rp2,07 triliun di pasar saham dan beli neto Rp2,16 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Penguatan Rupiah

Secara garis besar, rupiah masih menunjukkan penguatan dua kali pada tahun ini. Penguatan pertama terjadi pada Februari akibat spekulasi bahwa The Fed akan mengurangi hawkish, mengingat inflasi yang telah memuncak.

Di sisi lain, rupiah sedang dinaungi sentimen positif dari indeks manufaktur yang berada di 51,3 pada Januari, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 50,8. PMI manufaktur di atas 50, tentunya bisa memberikan sentimen positif ke rupiah. Seperti diketahui, industri pengolahan berkontribusi sekitar 18% terhadap produk domestik bruto (PDB), terbesar berdasarkan lapangan usaha.

ementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Januari 2023 mencapai 5,28% (year-on-year), lebih rendah dari Desember 2022 yang mencapai 5,51%. Dengan inflasi yang semakin turun, daya beli masyarakat tentunya akan semakin kuat, yang bisa berdampak positif bag pertumbuhan ekonomi.

Pada Februari 2022, BPS juga mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 mencapai 5,3%, tertinggi sejak 2014. Pertumbuhan pada level tersebut juga menegaskan ekonomi Indonesia sudah pulih setelah dihantam pandemi Covid-19.

Rupiah juga sukses mencetak rekor terkuat 2023 pada Jumat (28/4/2023). Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi membuat dolar AS kesulitan bangkit.

Isu utang Amerika Serikat juga menjadi salah satu penekan dolar AS. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan per 31 Maret utang Amerika Serikat menembus US$ 31,45 triliun, diperparah dengan ancaman anggaran belanja yang diperkirakan akan habis.
Pada 28 April 2023, rupiah  mampu berdiri di posisi Rp 14.665/US$1. 

Nilai tukar rupiah mulai goyang menjelang akhir Juni dan memburuk pada Juli 2023 sampai menembus level US$ 15.000 /uS$ secara permanen. Pelemahan terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga menguat. The Fed pada akhirnya menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada akhir Juli.

Rupiah kemudian melemah terus sejak Agustus hingga sekarang ini.  Bila dilihat pergerakan rupiah sepanjang 2023, secara bulanan, rupiah hanya menguat empat kali yakni pada Februari, Maret, Mei, dan Juni. Selebihnya rupiah tumbang, Pada Agustus lalu, mata uang Garuda bahkan ambles 1,49% sebulan.




CNBC INDONESIA RESEARCH

 

 

 

Senin, 02 Oktober 2023

Wall Street Gamang, Waswas Suku Bunga The Fed

 Wall Street beragam karena investor mempertimbangkan kemungkinan The Federal Reserve perlu mempertahankan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Bloomberg/Michael Nagle


PT. Equityworld Futures Manado - Wall Street beragam pada akhir perdagangan Senin (2/10/2023) karena investor mempertimbangkan kemungkinan The Federal Reserve perlu mempertahankan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Indeks S&P 500 naik 0,49 poin atau 0,01 persen ke 4.288,54, Indeks Komposit Nasdaq meningkat 88,45 poin atau 0,67 persen ke 13.307,77, dan Indeks Dow Jones Industrial Average turun 74,08 poin atau 0,22 persen ke 33.433,42. Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan ia tetap mendukung kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada pertemuan mendatang apabila data menunjukkan perkembangan inflasi terhenti atau berjalan terlalu lambat, mengutip Antara. Pada bulan lalu, The Fed menyatakan kemungkinan akan menaikkan suku bunga lagi karena kesulitan untuk membawa inflasi mendekati target tahunan 2 persen. "Kita mengakhiri September dengan pasar yang diselimuti oleh ketidakpastian. Memasuki bulan ini, pasar memerlukan konfirmasi bahwa pendapatan perusahaan sedang bergerak lebih tinggi dan perlu dipastikan ke mana arah The Fed," kata Kepala Strategis Global LPL Financial Quincy Krosby di Charlotte, Karolina Utara, dikutip dari Reuters. Menurut Krosby, investor terus mencermati kenaikan imbal hasil obligasi AS. Namun, kenaikan pada awal pekan ini terkait dengan kesepakatan untuk mencegah penutupan pemerintahan AS.

Baca Juga : Breaking News! Harga Emas Ambles 5% Karena Amerika

Sektor utilitas yang sensitif terhadap suku bunga ada sektor di S&P dengan kinerja terburuk. Sektor energi juga turun tajam, sedangkan sektor teknologi meningkat. Di antara saham utilitas, saham NextEra Energy anjlok ke level terendah sejak Maret 2020. Saham Nvidia naik usai Goldman Sachs saham produsen chip itu ke dalam daftar "conviction list"-nya. Sementara, saham Tesla relatif datar setelah jumlah pengiriman produsen mobil listrik tersebut meleset dari perkiraan. Data ekonomi menunjukkan belanja konstruksi AS meningkat pada Agustus. Sementara, laporan pekerjaan AS bulanan akan dirilis pada Jumat (6/10/2023). Laporan kuartal ketiga perusahaan-perusahaan dalam S&P 500 akan dirilis pada bulan ini, yang mana analis memperkirakan pendapatan perusahaan akan naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekonom Ryan Kiryanto dalam opininya menyebutkan sudah menjadi kelaziman, setiap pengambilan kebijakan terkait suku bunga acuan di berbagai negara, salah satu referensi utama yang diambil adalah stance atau arah kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral Amerika Serikat, yakni The Federal Reserve Bank. Namun, keputusan The Fed dalam menetapkan suku bunga acuan tidak mutlak menjadi rujukan bagi bank-bank sentral negara-negara lain untuk diikuti, karena situasi, kondisi dan persoalan ekonomi yang dihadapi AS sangat mungkin berbeda dengan negara-negara yang lainnya. Alhasil, tidak setiap langkah The Fed pasti akan diikuti oleh bank-bank sentral lainnya. Diperkirakan pula The Fed akan menurunkan suku bunga acuan hanya sebesar 50 basis poin untuk 2024 atau lebih rendah dari perkiraan penurunan yang sebesar 100 basis poin pada Juni silam. Ketua FOMC Jeremy Powell menekankan bahwa pertimbangan utama pengambilan kebijakan terkait suku bunga acuan sangat bergantung pada ekspektasi inflasi ke depan dan data makroekonomi terkini.

Sumber : bisnis.com


Minggu, 01 Oktober 2023

Ngeri! Sepanjang September Minyak Dunia Melesat Hampir 10%

 PT Pertamina Hulu Energi

Foto: dok PT Pertamina Hulu Energi

 

PT. Equityworld Futures Manado - Harga minyak mentah dunia di tutup melemah pada penutupan perdagangan Jumat (29/9/2023) karena aksi taking profit yang berlanjut.

Harga minyak mentah WTI di tutup melemah 1% di posisi US$90,79 per barel, sedangkan harga minyak mentah brent di tutup turun 0,07% ke posisi US$95,31 per barel.

Namun sepanjang September 2023 harga minyak mentah WTI berhasil melonjak 8,56%, dan harga minyak mentah brent naik 9,73%.

Dengan harga minyak berjangka mendekati US$100 per barel, banyak investor mengambil keuntungan dari reli tersebut mengingat kekhawatiran makroekonomi yang sedang berlangsung.

Jumlah rig minyak dan gas AS, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, turun tujuh menjadi 623 dalam minggu yang berakhir 29 September, terendah sejak Februari 2022, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes BKR.O dalam laporan pada hari Jumat.

Meskipun jumlah total rig turun sebanyak 51 rig pada kuartal ketiga, pengurangan tersebut melambat dibandingkan dengan pengurangan sebanyak 81 rig pada kuartal kedua karena harga minyak telah kembali pulih akibat pengetatan pasokan.

 Baca Juga : Harga emas sudah jatuh 4%, pernah seburuk ini?

Pertemuan panel tingkat menteri OPEC+ akan berlangsung pada 4 Oktober dan ada kemungkinan besar pengurangan pasokan sukarela oleh Aramco.

Pengurangan pasokan yang diumumkan oleh Arab Saudi dan Rusia diperkirakan akan mendominasi harga minyak untuk sisa tahun ini.

Harga minyak yang digembar-gemborkan sebesar US$100 per barel tampaknya berlebihan, mengingat sifat buatan dari kekurangan pasokan dalam sistem, dan lingkungan makro yang rapuh.

Beberapa analis memperkirakan peningkatan produksi melalui minyak serpih AS akan membantu mengimbangi pengurangan pasokan OPEC+, meskipun hanya sedikit. Meningkatnya output dari Iran dan Venezuela juga terlihat membantu.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar akan tetap mengalami defisit hingga tahun 2023, dengan permintaan minyak diperkirakan meningkat sebesar 1 juta barel per hari pada tahun 2024.

Namun, kurangnya pengurangan produksi pada awal tahun depan dapat menggeser keseimbangan menjadi surplus.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

Sumber : cnbcindonesia.com 

 

 

Kamis, 28 September 2023

Breaking! Harga Emas Ambruk 5 Hari, Terendah dalam 6 Bulan

 

PT. Equityworld Futures Manado – Harga emas makin ambruk. Sang logam mulia bahkan jatuh ke level terendah enam bulan. Harga emas di pasar spot pada perdagangan kemarin, Kamis (28/9/2023), ditutup di posisi US$ 1.864,56 per troy ons. Harganya jatuh 0,54%.
Posisi tersebut adalah yang terendah sejak 9 Maret 2023 atau lebih dari enam bulan terakhir.

Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada perdagangan Jumat (29/9/2023) pukul 06:06 WIB, harga emas ada di posisi US$ 1.864,29 per troy ons. Harganya melemah tipis 0,01%.
Pelemahan tersebut memperpanjang derita emas yang juga ambruk sejak perdagangan Senin. Emas sudah melemah dalam lima hari terakhir dengan pelemahan mencapai 3,15%.

Emas ambruk parah sejak Rabu pekan ini sehingga harganya terlempar dari level psikologis US$ 1.900 per troy ons.
Harga emas ambruk karena pelaku pasar semakin meyakini jika bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) masih akan hawkish. Terlebih data-data ekonomi AS menunjukkan jika ekonomi AS masih panas.

Jumlah pegawai AS yang mengajukan klaim pengangguran tercatat 204.000 pada pekan yang berakhir pada pekan yang berakhir pada23 September 2023, hanya naik 2.000 dibandingkan pekan sebelumnya. Jumlah tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yakni 215.000.

Data tersebut menambah bukti bahwa pasar tenaga kerja masih panas. Artinya, pasar tenaga kerja masih belum terdampak signifikan dari kebijakan suku bunga tinggi dan masih ada potensi kenaikan inflasi sehingga menambah peluang The Fedhawkishpada November.

“Perekonomian tetap tangguh, inflasi tetap tinggi dan skenario terburuk The Fed, stagflasi, telah dapat dihindari untuk saat ini,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance di Charlotte, Carolina Utara yang dikutip dari Reuters.

Perangkat FedWatch Tool menunjukkan sekitar 214% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini lebih besar dibandingkan di awal pekan yang hanya 14%.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melonjak. Indeks dolar masih bergerak di kisaran 106 yang merupakan level tertingginya sejak November 2022 atau 10 bulan terakhir.

Imbal hasil pada US Treasury yang melesat ke kisaran 4,6% pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak 16 Oktober 2007 atau tertinggi dalam 16 tahun terakhir.

Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal dibeli sehingga tidak menarik buat investasi. Logam mulia juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil US Treasury naik.

Emas benar-benar dilupakan. Data inflasi dan tenaga kerja yang masih kuat membuat emas sangat sulit pada saat ini,” tutur analis OANDA, Craig Erlam, dikutip dari Reuters.

Investor kini menunggu data Personal Consumption Expenditures(PCE) untuk Agustus 2023. PCE mencerminkan konsumsi belanja pribadi warga AS dan menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan.

PCE naik menjadi 3,3% (year on year/yoy) pada Juli 2023, dari 3% pada Juni. Secara bulanan, PCE stagnan di angka 0,2% pada Juli,

“Jika PCE masih panas maka itu akan benar-benar menjadi kabar buruk bagi logam mulia. Emas akan terpukul,” tutur Daniel Pavilonis, analis RJO Futures.

 

 

Source: cnbcindonesia.com